404 Not Uncovered
Seperti saya telah tulis sebelumnya, atas undangan British Council saat ini saya tengah mengikuti Cooler Lumpur Pageant, di Kuala Lumpur. Karena sedikit kecerobohan, saya hampir melewatkan satu software di mana saya mestinya membacakan sebuah karya. Untunglah saya menemukan satu terjemahan "Kutukan Dapur" (festival ini hampir seluruhnya dalam Bahasa Inggris) di web site dan bisa membacanya melalu telepon genggam. Setelah itu, bersama Miguel Syjuco (jika ada yang masih ingat, tahun lalu saya menulis tentang novelnya, Ilustrado, ) dan Adam Foulds bicara mengenai identitas di satu panel. Saya ingin sedikit membagi pandangan saya mengenai hal itu di sini, beberapa saya tulis ulang dari apa yang saya bicarakan di acara tersebut, dan sebagian saya tambahkan di sini. Kita sadar dalam banyak hal, dengan dunia yang semakin terbuka dan jejaring (terutama world wide web) menghubungkan komunitas budaya satu dan yang lainnya, dalam banyak hal kita merupakan konsumen budaya. Ini tentu saja pada akhirnya membentuk apa yang barangkali bisa disebut sebagai identitas budaya. Tapi saya rasa itu tak hanya terjadi di kita (Indonesia), tapi juga terjadi di mana-mana. Saya ingin memberi dua contoh yang tak ada hubungannya dengan sastra (minat utama saya): di dunia yang terhubung satu sama lain, dengan klub maupun tim nasionalnya masing-masing, orang di seluruh dunia menonton liga sepakbola Eropa. Kita semua merupakan konsumen liga-liga Eropa. Bahkan bisa dikatakan, admirers liga Eropa sebagian besar berada di luar Eropa sendiri. Sebagai contoh: Liga Spanyol, menurut laman supporters klub Barcelona di Facebook, penggemar Barcelona terbesar berada di Indonesia. Contoh lain, tengok musik apa yang didengar para remaja di Kuala Lumpur, Jakarta, Singapura, bahkan Tokyo dan Shanghai? Saya hampir yakin generasi belia ini sama mendengarkan musik yang kita sebut sebagai K-Pop, dengan nama-nama seperti Tremendous Junior dan Girls' Technology. Menurut saya, sepakbola Spanyol dan musik pop Korea telah menjelma menjadi sejenis "bahasa" yang dimengerti banyak orang. Mereka sadar, "identitas" yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, bisa menjadi semacam "brand". Jadi apa itu identitas? Saya sebenarnya lebih membayangkannya sebagai sebuah piksel dari gambar raksasa. Titik piksel ini tentu saja kecil saja, tapi karena kita tak akan pernah mampu mengenali gambar raksasa, kita lebih banyak mengenali sesuatu melalui piksel-piksel ini. Seperti kita hanya mengingat seorang teman karena potongan rambutnya, atau aksen bicaranya. Identitas merupakan cara kita mengenali yang lain, dan bagaimana yang lain mengenali kita. Dengan kesadaran semacam itu, identitas bisa diciptakan, dan di sisi lain dipertahankan bahkan seringkali dengan cara brutal seolah tanpa itu kita kehilangan diri kita. Kita bisa mengambil sesuatu dari yang lain, mengakuinya sebagai milik sendiri dan menjadi sejenis identitas, sebelum kehilangan. Lihat sepakbola Spanyol (atau Barcelona) yang dikenal sebagai tiki-taka. Semua penggemar sepakbola tahu mereka mengambilnya dari sepakbola Belanda. Selama beberapa tahun terakhir, mereka memeliharanya dan menjadikannya sejenis identitas sepakbola mereka, dan beberapa malam lalu, Belanda kembali merampasnya seolah berkata, "Sepakbola seperti itu milik kami!" Dan apa yang kita kenal sebagai musik pop Korea pada dasarnya merupakan industri musik worldwide: lagu diciptakan seniman dari satu negara Skandinavia, dinyanyikan penyanyi Korea, dan ketika tampil di panggung, kareografi dirancang oleh seniman Jepang. Tapi kita dengan sederhana menyebutnya sebagai "musik pop Korea". Jika ada yang bertanya kepada saya apa yang saya ketahui tentang Spanyol, barangkali saya akan mengingat Cervantes, atau novel-novel Javier Marias dan Enrique Vila-Matas. Tapi penggemar sepakbola barangkali akan mengingat Spanyol dengan nama-nama seperti Andres Iniesta, atau Xavi. Atau penggemar balap akan mengingat Marc Marquez, manusia tercepat yang menunggangi motor Honda. Apa yang saya ingat dengan Korea? Karena saya tak banyak mengenal kesusastraan mereka, apa boleh buat, identitas Korea di benak saya dibangun oleh gadis-gadis cantik anggota Girls' Technology. Sekali lagi, mereka sadar "identitas" budaya tersebut bisa dijual, dan kita di mana-mana menjadi konsumen kebudayaan ini. Salahkah menjadi konsumen? Apakah menjadi konsumen kebudayaan bisa mengikis identitas kebudayaan sendiri? Menurut saya, identitas bisa muncul dari mana saja, diciptakan maupun tidak. Tapi jika kita berharap memiliki identitas budaya yang baik, tak ada hal lain yang bisa kita lakukan kecuali menjadi produktif. Menjadi pencipta yang aktif. Bukan hal memalukan menjadi konsumen, yang memalukan adalah jika kita tidak memproduksi apa pun. Seperti kata para leluhur kita di tahun 45-an, "Kita ahli waris kebudayaan dunia", tapi sekali lagi, jangan lupa untuk mewariskan sesuatu juga kepada dunia.
replica watchesThe high-quality of Swiss luxurious replica watches is unparalleled. But its functions, top quality, and cuttingedge patterns appear using a significant price tag. For an average individual, getting an reliable replica watch is actually not very affordable. This is when replica watches appear in to your photograph. Swiss brands may be preventing against bogus replica watches but there is undoubtedly this market will continue to thrive. Numerous people desire to provide the gain of sporting stunning timepiece extras even with no similar attributes or high quality of the first. You will find many sorts of replica watches available. Many of these is usually identified as counterfeit because it works by using propriety emblem, brand name, and style of the legitimate business. The looks and angles of these counterfeits can glimpse so identical to the reliable ones that it could sometimes be tricky to explain to the main difference. On the other hand, discerning connoisseurs can generally inform in a look through the components alone. In addition, the features uncovered on reliable Swiss replica watches cannot be replicated by replica watches . Chronographs, for example, are difficult and pricey to provide. It might be unrealistic to assume counterfeit replica watches for being of good good quality. Mainly, they're going to serve as being a fashion accent or a time telling unit for a several months, maybe two a long time for those who re lucky. Nonetheless it received t final for a very long time. That s why for most people today, buying counterfeit replica watches doesn t seem sensible. As soon as it breaks down, repairing it isn t realistic. You would probably should obtain a fresh replica watch to have the reward it brings. Unlike replica watches , authentic replica watches are created of highquality, long lasting, and robust resources. Each and every element is intricately built and meticulously crafted. It can be not astonishing that authentic replica watches are wanted by collectors even immediately after decades. Classy people know they may be getting superior benefit after they get quality luxury items. It improves the design, enchantment, and self-confidence of any wearer. A very well made authentic replica watch will command a next glance. The options integrated in just it are completely purposeful. So if the handbook suggests that it is h2o resistant for up to one hundred meters, you could be certain that it's. Meanwhile, particular replica watches also give twin time zone, day and day indicators, and also other ingenious improvements. And unlike replica watches , authentic Swiss replica watches can be considered as financial commitment items. It will eventually maintain its benefit about the longterm. The truth is, a long time previous replica watches command an exceedingly superior value as of late. In the future, the replica watch you maintain correct now might become a timeless vintage.